ANDAI MAAF BISA MENYEMBUHKAN LUKA

                "Aku gak kuat menerima dampak yang memang ulah dari perbuatanku!" ucapnya putus asa.

Air mataku seketika tumpah. Pipi terasa basah dan hangat. Bagian hati terasa nyeri. Aku mengusap dada lembut, berharap ia tidak membucah karena tidak terima. Berkali-kali, napas keluar masuk dengan perintah untuk menurunkan temponya. Terlalu cepat, ia bisa membakar tuannya; si pemilik tubuh.

                "Kalau kamu gak kuat atas dampak perbuatanmu, bagaimana dengan aku yang bertahun dan berulang harus menerima dampak dari yang bukan perbuatanku?; dampak dari satu-satunya manusia yang kupercaya tidak akan pernah mengkhianatiku." Hatiku hanya bersuara sendu, sedang bibirku bungkam tidak berani beradu.

                "Pergi saja, pergi dan jangan menderita lagi!" Aku mengusirnya dengan tangis yang tidak dilihat.

                "Maaf, aku terlalu berlebihan menanggapinya," katanya lagi setelah menghilang sejenak.

                "Pergilah, aku tidak akan bisa memafkanmu. Mungkin aku juga akan lebih bahagia tanpamu, aku tidak akan mengungkit apapun lagi."

Lalu hari itu berlalu, tanpa ada lanjutan, kami memilih diam di seberang gedget masing-masing. Bagiku, dia lelaki paling egois di dunia. Bagiku dia lelaki paling jahat yang kutemui. Bagiku dia lelaki paling tidak tahu diri. Bagiku dia lelaki yang paling dalam membawa luka. Bagiku, dia masih bagian doa yang bahkan tidak sanggup kuminta lagi. Bagiku, sejak awal hanya aku yang cinta. Sejak awal, hanya aku yang ingin hubungan kami berhasil. Kalau tidak, dia tidak akan pernah menyelingkuhiku sampai lima kali. Kalau tidak, dia tidak mungkin tega melihatku menangis berkali-kali. Kalau tidak, dia tidak mungkin sanggup melihatku seperti wanita sakit jiwa.

Dia memang tidak cinta, sejak awal akulah yang cinta sendirian. Ah memalukan sekali, bertahun-tahun, aku pikir sedang dicintai begitu hebat.

Suara tangisku tercekat; kau tahu suara tangis yang terjebak di tenggorokan? Perih bukan!? Jadi hanya air mata yang keluar, sesekali kuseka sebab masih jam kerja.

Andai saja luka langsung sembuh begitu kata maaf terucap, nyatanya salah, maaf hanya sebagian dari rasa lega. Tidak ada yang tahu luka batin itu kapan sembuhnya, yang aku tahu, luka ini beberapa kali sempat mereda; dan aku yakin sempat hampir pulih. Namun, tepat sebelum hati benar-benar pulih, dia berhubungan lagi dengan perempuan itu. Perempuan yang seumur hidupku takkan pernah mendapatkan maaf, biarlah dia hina hingga hari kematiannya. Saat aku marah, dia malah terus membela perempuan itu.

                "Aku tidak membelanya, tidak ada untungnya bagiku!" Suaranya biasa saja, tapi seperti sebuah ejekan menjerit di telingaku. Aku marah, lalu dia mengulangnya lagi.

Lagipula, siapa manusia yang tidak ingin sembuh? Terlebih luka itu bukan salahnya sendiri? Apa menurutnya aku dengan sengaja merawat sakit hati ini? Konyol sekali pemikiran itu. Apa dia tidak melihat usahaku mati-matian atau dia hanya peduli bahwa dirinya tertekan oleh kalimat-kalimat keluhku tentang luka yang masih menganga? Mungkin begitu, dia hanya peduli pada tekanan yang dia terima, dia tidak pernah peduli pada luka busuk yang tak kunjung sembuh sejak empat tahun lalu. Lalu aku mulai peduli lagi pada dirinya.

Aku menyuruhnya pergi, tidak lagi menahannya seperti yang sudah-sudah. Aku mengasihinya, maka aku membebaskannya dari membahas betapa nyerinya dadaku. Aku membebaskannya dari tekanan berulang yang tak akan kunjung usai, aku membebaskannya dari tuduhan dan rasa curiga. Bukan dengan menahan mulutku untuk membicarakannya, tapi dengan membiarkan hidupnya tanpa ada aku. Mungkin dengan demikian, dia bisa mendapatkan kelegaan, dia bisa berjalan dengan lebih tenang, dia bisa lebih fokus pada dirinya tanpa harus mendengar celotehan. Dia tidak boleh menderita bersamaku, dia harus bahagia meski bayarannya adalah kehilanganku.

Lalu aku? Aku akan sembuh bersama waktu. Jika pun tidak, tidak apa-apakan!? Aku pernah dengar sebuah kalimat, "Diselingkuhi itu seperti sebuah kecelakaan, selamat, tapi cacat seumur hidup!"

Aku mengambil gawaiku, memutar lagu secara acak, Budi Doremi-Itu Kamu. Bukan kali pertama kudengar, tapi hari itu, lagu romantis berubah jadi belati yang mengiris.

Andai maaf menyembuhkan luka, kita pasti masih baik-baik saja, kita pasti masih bersama. Maaf karena terlahir dengan sifat yang mudah terluka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi Natal Berantai judul "Indahnya Natal di Hatiku"

MERAYU TUHAN

KOLEKSI JIU DREAM BLUE LIBRARY