Postingan

Menampilkan postingan dengan label CEKAT (CERITA SINGKAT)

KAMU LAYAK DIRATUKAN

  By Senna Simbolon   Suasana pagi di area pegunungan memberikan kesan dingin yang menyejukkan sampai ke dalam jiwa. Pinggiran kolam berukuran 10x4 meter menjadi tempat duduk nyaman sambil memandangi alam yang sedang cerah-cerahnya. Kedua kaki kumainkan di dalam air, wajah terangkat ke atas, dan telapak tangan jadi tumpuan. Meski seluruh tubuh basah, tidak membuat aku menggigil sama sekali, sinar matahari begitu hangat menyinari. Cukup lama aku berdiam, sampai akhirnya dahi mengerut karena telinga menangkap suara langkah kaki yang samar. Sinar matahari yang tadinya menghangatkan kulit wajah, terasa mendung dan membuat aku spontan membuka mata. Sebuah handuk berwarna abu-abu kini terbalut lembut pada tubuhku. Lelaki itu tidak mengucapkan sepatah kata, dia berlalu tanpa sempat kulihat ekpresi wajahnya. Suara enggan untuk menyapa, tapi aku tahu apa yang dia maksudkan. Aku langsung berdiri dan menyusul secara perlahan. Kedua tangan memegangi handuk yang sebenarnya cukup fami...

SATU-SATU

Gambar
 By Mimae Sebuah sticky notes tiba-tiba tertempel di layar komputer Wina. Wina tahu pemilik tulisan tangan itu. Karin. Wina menatap ke arah Karin yang sedang menunggu balasan dan Wina memberi isyarat dengan menganggukkan kepala. Dari seberang meja, Karina tampak bersemangat sambil mengacungkan jempol. Tiga puluh menit lagi. Wina merapikan pekerjaannya yang sudah selesai. Kemudian menyisihkan dokumen-dokumen lain yang masih tertunda. Karina pasti melihat Wina yang gelisah hari ini karena itu ia mengajaknya untuk melihat sunset. Kebiasaan yang selalu mereka lakukan ketika pikiran sedang kacau. "Kamu kenapa hari ini? Lagi ada yang dipikirkan?" ujar Karina sambil menyodorkan minuman pada Wina. "Rin, aku kayaknya pengen resign aja, deh." "Kenapa kok tiba-tiba?" Karina tampak terkejut dengan pernyataan Wina barusan. "Aku merasa nggak cocok aja kerja di bidang ini. Aku kurang kompeten," keluh Wina seolah tak berdaya akan keadaan. "Jad...

MERAYU TUHAN

Gambar
By Senna Simbolon Untuk memastikan kenyataan, aku melakukannya berulang-ulang; menutup mata, menggeleng kepala, dan membuka kembali pandangan. Semua orang terdekat masih di sana, memberikan senyuman menggoda juga tepuk tangan meriah. Itu artinya ini bukan mimpi. Ah tidak, akan kupastikan sekali lagi! Jemari dengan nail art  bernuansa cream  dengan beberapa tempelan kristal kecil mulai dijadikan senjata. Perlahan tapi pasti, otak memerintah  untuk memberikan tekanan paling maksimal saat menjepit kulit tangan. “AAAA!” teriakku sembari mengusap bagian tangan yang sakit. “ADUDUH bego banget sih!” tambahku lagi. Saat asyik menetralkan rasa tidak nyaman di tangan, tiba-tiba otakku menyadari satu hal. Hening. Bahkan seingatku tadi ada suara musik yang mengalun riuh, kini malah hilang entah ke mana. Aku mendongakkan kepala yang tadinya menunduk ke arah pergelangan. Semua undangan tampak bingung melempar pandang padaku. Aku menyengir kecil sembari melirik beberapa sudut untuk untu...

LOVE WINS ALL

By Mimae "Aku nggak yakin bakalan berhasil ambil tawaran ini, Nan. Saingannya banyak banget dibanding yang mau diterima." "Emang kamu udah coba? Hasilnya udah keluar?" "Belum sih. Tapi kita kan harus realistis, Nan. Dengan kemampuan aku yang seadanya ini, nggak ada apa-apanya sama mereka yang udah punya banyak pengalaman." "Kamu tuh bukan realistis, tapi pesimis aja, Ka. Pokoknya aku mau kamu tetap coba tawaran ini. Apa yang salah kalau nyoba dulu? Toh gratis, sesuai dengan passion  kamu juga, kamu juga kan punya pengalaman di bidang ini. Jadi, apa yang harus kamu takutkan? Setidaknya dicoba dulu, Ka. Urusan diterima atau enggak itu di luar kendali kamu. Prinsipnya tuh gini, aku ngerjain bagianku yang dapat kukendalikan, tapi untuk apa-apa yang tidak bisa kukendalikan itu kuserahkan sama Pemiliknya. Kamu nggak perlu mikirin saingannya lah, ini lah, itulah, jatuhnya itu buat kamu jadi malas berjuang, masa mau kalah sebelum berperang sih, Ka? Kamukan pe...

TOXIC RELATIONSHIP

Gambar
  By Senna Simbolon Seorang perempuan terlihat sibuk membalut jarinya yang sedang terluka. Ia terlihat meringis, tapi juga berusaha untuk tetap tenang. Ujung jari yang sakit didekatkan ke pipi, rasanya hangat dan ada gerakan nyut-nyutan yang cukup keras. Tusukan yang dalam memang terasa lebih sakit dibandingkan goresan pisau. “EH!! Udah jangan biar aku aja!” teriak si gadis usai meniup jemarinya. “DIAM DI SITU!” balas sahabat si gadis saat mulai sibuk membersihkan ceceran darah yang mewarnai lantai keramik berwarna putih bersih. Tampak dengan sangat jelas, warna merah tertransfer ke tissue basah. Ia begitu lihai urusan bersih-bersih, tapi sepertinya kejadian kali ini membuat hawa sekeliling tampak mengerikan. Dingin dan mencekam. Dinda yang tidak berani membantah hanya ambil posisi di sudut ruangan sambil meratapi nasibnya setelah ini. Wajah lusuh, kesakitan, dan memelas begitu jelas di sana. Seperti sedang menunggu diberi hukuman, tampak pasrah, dan tidak berani ke mana-ma...

PUDAR

  By Senna Simbolon           Aku mengerutkan dahi ketika sebuah notif pesan WA masuk ke ponselku. Perasaan bingung dan tanya mulai bergantian memasuki kepala. Mengapa belakangan lelaki ini mulai sering memulai komunikasi denganku, selalu ingin bertemu, dan bercandanya seperti kebiasaan para lelaki yang sedang mencoba mendekati wanitanya. Bukan, aku bukan membencinya atau tidak menyukai perlakuannya sekarang, hanya saja itu cukup aneh bagi kami yang sudah berstatus sebagai mantan. Apalagi aku tahu betul dia sangat tidak suka kalau aku membahas soal hubungan sebelumnya, ia akan berkata aku sangat suka hidup di bayang-bayang masa lalu.           Setelah berpisah aku tahu bahwa kami masih saling mencintai, namun untuk Kembali itu bukan pilihan yang terbaik saat ini. Sebelumnya aku selalu menunjukkan padanya betapa aku sangat mencintai dan masih menginginkannya, tapi sepertinya ia tidak menyu...

AKHIR YANG BERBEDA

 By : Senna Simbolon “Hah!? Iya kenapa?” tanyaku berulang saat telinga menangkap jelas panggilan yang sudah lama tak kudengar. Hatiku bergetar seakan ada yang belum usai, padahal berjam-jam yang lalu semua tampak baik dan tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku masih belum percaya apa yang keluar dari mulut manisnya. “Aku bilang kita naik ke lantai dua!” teriaknya sedikit kencang. “Ah iya, maaf!” Aku mendesir kikuk, sembari menaiki escalator secara perlahan. Ternyata telingaku sedang bermasalah, ia sama sekali tidak menggunakan panggilan sayang itu lagi. Aku harus sadar, semua telah berubah, ceritanya sudah usai sejak tiga bulan lalu. Adegan aku yang masih tertinggal di belakang, kugunakan untuk memukul-mukul kepala, aku berharap dia tidak menyadari kesalahan yang kulakukan barusan. Tolol sekali! Meski ia telah mengulang kata ‘naik’ sebanyak empat kali, indra pendengarku masih lebih senang memanipulasinya ke kata yang paling kurindukan sejak lama. Sepanjang sore itu, aku dia...

KISAH KESEKIAN KALINYA

Gambar
by Senna Simbolon  Walau dengan gaun putih dan heels , aku tetap berlarian kecil di salah satu mall kota Bekasi. Sambil memasang anting yang berwarna senada, sesekali langkah dipercepat. Aku melihat jam di ponsel yang sudah menunjukkan pukul 18.30 menjelang malam. Aku sudah terlambat setengah jam, sungguh di luar kebiasaanku. Sebuah restoran bernuansa ungu mulai kelihatan jelas, aku makin bersemangat meski remang-remang ikut menaungi sekitar. Saat tepat di depan pintu, langkah kaki berhenti sejenak, tarikan napas tanda persiapan kekuatan. Mata liar mulai menyusuri setiap sudut ruangan, aku menemukan dirinya di sana. Lelaki itu menggunakan kemeja putih casual . Jantung berdegub kencang, kali ini tarikan napas terjadi tanpa diperintah. Senyum penantian mulai terlihat jelas di sana. Kuhampiri sembari menggenggam erat tali tas yang terbuat dari bulatan-bulatan besi kecil. “Silahkan duduk!” ucap lelaki berkulit sawo matang seraya mempersiapkan dudukan untukku yang masih berusaha ...

Baik-baik Saja

Gambar
“Kak, aku boleh cerita?” tanya gadis imut yang saat ini duduk di bangku kuliah semester akhir itu. “Emangnya Jen mau cerita apa?” tanyaku balik sambil grasak-grusuk dengan buku di tangan.      Kami memang terbiasa melakukan video call sambil menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Namanya Jenni, juniorku ketika masa kuliah yang kini malah sudah kuanggap sebagai adik sendiri. Perhatiannya mampu meluluhkan hati keras yang kumiliki. “Aku sedih banget kak, kemarin itu aku kecopetan pas di angkot. Padahal itu untuk bayar tagihan kak,” dumelnya sembari memasang raut wajah sedih dan kurasa ia sedang menahan tangis ketidakberdayaan. “Kok bisa!? Berapa yang hilang?” Aku menghentikan kegiatanku selama tiga detik. Telinga mendengar suara yang sedikit serak, kulanjutkan kesibukan agar tidak terjadi penumpahan air mata. “Iya kemarin itu aku pulang naik angkot kak, pas turun aku baru sadar salah satu dompetku diambil. Padahal di dalamnya hampir delapan ratus ribu.” V...

Aku Lebih Membutuhkanmu! (PART I)

Gambar
  “Sebenarnya apa sih yang kau cari di dunia ini?” Perempuan yang mirip denganku itu terus mempelototiku dengan tajam. Tubuhnya disandarkan pada tembok, tangan dilipat, dan sebelah kaki ditekuk agar telapak kaki bersentuhan dengan pembatas berwarna putih. Aku bisa melihat kemarahan besar di wajahnya yang memerah. Aku berusaha tidak merepons dan menyibukkan diri dengan gelas yang berisi air hangat. Tubuhku terasa menggigil, tapi termometer menunjukkan angka 40 derajat Celcius. “Kenapa diam!? Apa sakit itu merenggut pita suaramu!? Kau sudah seperti mayat hidup sekarang, apa kau pikir kau masih tampak seperti manusia!?” ocehnya lagi dengan tatapan seolah jijik denganku. “Kau enggak tahu apa-apa, jadi jangan menghakimiku seperti ini! Aku muak dengan kehadiranmu, kau tidak membantu apapun di sini!” Meski aku mulai merasa kesal, suaraku masih tidak menunjukkan kekuatan. Kondisi fisik yang kurang baik masih membatasiku. “Tidak membantu katamu!? Aku sedari tadi berusaha menyadarkan...