Postingan

Putih yang menyamar Hitam-Chapter 27

Gambar
   Kembalinya Bentuk Senyuman   ~Apa yang menjadi milikku akan tetap jadi milikku. Sejauh apapun ia pergi, suatu saat akan kembali~ *** “Nest, di depan ada yang nyariin, katanya temanmu,” ujar Kakak kos yang nongol dari pintu kamar. Aku sedang butuh udara segar, jadi kubuka pintu lebar-lebar. “Makasih Kak.” Aku bangkit dengan rasa semangat. Apakah sahabat tercinta sudah tidak marah? Mengapa tidak langsung masuk saja? Menjadi kikuk ‘kah? Sungguh tak pernah terduga, pertengkaran kecil menciptakan suasana berbeda. Semoga pertemuan menjadi solusi kembalinya suasana semula. Aku sangat senang, hingga keluar tanpa persiapan. Rambut masih acak-acakan, piama juga masih kugunakan. “Nesta itu cantik, pintar, jago masak, rajin nabung uang koin dan baik hati lagi. Siska yakin banyak laki-laki yang mengharapkan Nesta,” pujinya dengan bangga. “Jangan terlalu melebih-lebihkan!” kilahku yang masih menatap ke atas, tapi tak jelas. “Siska serius, Bang Depo salah satu bukti...

Putih yang menyamar Hitam-Chapter 26

Gambar
  Datar   ~Aku ingin segera merebahkan tubuh yang pilu, mengistirahatkan otak yang terenyuh dan mendiamkan hati yang terlalu sering terkena sembilu~ *** Setiap orang butuh alasan untuk mempertahankan sesuatu, tapi aku? Tidak ada alasan untukku bertahan hidup dan ini semakin membuat sulit di setiap detik. Setiap pagi aku bangun dengan sikap uring-uringan, menatap jam yang menandakan keterlambatan, hingga rasa tidak peduli akan resultan. Tuangan air dari gayung menuntunku menutup mata, nikmatnya sampai ke jiwa. Aku masih berdiam diri meski tubuh sudah bersih. Suara air dari keran membantuku menikmati kedamaian. Pernahkah kalian merasakan kamar mandi sebagai tempat ternyaman? Mungkin inilah jawaban dari kebiasaan pecandu obat terlarang. Bukan hanya untuk menyembunyikan diri, tapi untuk menikmati mimpi. Bebas berimajinasi, seperti tidak ada lagi beban di hati. Napas serasa lebih cepat. Bahkan aku lebih banyak menghela daripada menghirup oksigen di udara. Helaan kelegaa...

Putih yang menyamar Hitam-Chapter 25

Gambar
  Tahun-tahun Panjang   ~Berterima kasihlah pada Sang Pencipta, kita tidak akan pernah tahu betapa susahnya Ia menjaga ciptaanNya agar baik-baik saja~ *** Hari-hari yang terasa panjang, berhasil kulalui; enam bulan lagi sudah kumenangkan. Sangat berat, tapi tidak setiap saat, hanya di kala hati menunjukkan sikap tidak terima saja. Bila itu terjadi, tangis pecahku harus terkurung dalam kamar. Tidak cukup di situ saja, bantal dan boneka beruang akan menjadi sasaran empuk untuk membekap  kegilaan suara dari mulut. Sisanya hanya hari di mana semua terasa sama, terasa tidak berwarna dan tidak perlu menimbulkan emosi apa-apa. Tentu saja aku lebih menyukai tangis pecah yang sesekali menghampiri. Tuhan menciptakan emosi untuk membuat kita semangat menjalani hari. Ketika amarah telah padam, setelah kesedihan bersembunyi, aku kembali menjadi seseorang yang hitam putih. Tidak ada apa-apa selain tenang dan temaram. Aku semakin terlihat seperti orang gila setiap harinya. Ben...

Putih yang menyamar Hitam-Chapter 24

Gambar
  Perpisahan Yang Tidak Sepihak   ~Jika masih berkeinginan mencintai orang yang sama dengan masa lalu, kenapa memutuskan berpisah dengan yang dulu? ~ *** Bayangan Raka di malam itu masih sering terlintas meski rentang waktu telah berjalan setengah tahun. Aku ingin sekali memiliki alat pemutar waktu, aku ingin memperbaiki sikap di malam ia bermanja-manja. Maaf untuk hati yang sudah sangat memimpikan kebersamaan, saat ini semua itupun harus tertunda. Namun, jika aku diijinkan memperbaiki hari lalu, belum tentu aku mampu; bisa saja hasilnya tak ubah. Jika ia cinta yang ditakdirkan untukku, ia akan kembali dengan cinta yang lebih besar. Aku hanya harus cukup dewasa untuk memulai dengan kepasrahan. Lagipula, kehilangan merupakan hal yang biasakan? Hidup memang tidak selalu adil, tapi apakah terus bersungut-sungut itu perlu? Apa aku harus menuntut semesta? Kurasa tidak juga. Ikuti saja alur yang sudah Tuhan siapkan! “ Semuanya harus kau dengar Raka! Semua isi hatiku. Ter...

Putih yang menyamar Hitam-Chapter 23

Gambar
  Bagaimana melukiskan kehilangan?   ~Tidak ada insan yang dapat kupercaya, semua penipu ulung yang menikam secara terang-terangan. Awalnya memberi cinta, lama-lama menyodorkan racun kematian~ *** Hati gelisah karena kejutan meliputi jiwa , tidak ada lagi yang bisa kurindukan. Bumi berkabung dan layu , kegirangan suara musik sudah berhenti. Tiada lagi segores senyum yang bisa dilontarkan untuk sekitar. Hati remuk redam, bulan purnama tersipu dan matahari terik telah mendapat tinju . Aku tidak mengerti letak cacatku. “ Gem, kenapa enggak pernah cerita mau pindah kampus?” tuntutku sebuah penjelasan. Aku terus mengikuti dia yang bolak-balik mengurus berkas di ruang administrasi, sedang Siska malah diam tak bertanya. “Gema, ayolah! Kenapa harus pindah sih? Bentar lagi mau semester dua,” ulasku tentang keadaan pendidikan kami. “Gema!?” Aku menahan lengan yang sedari tadi sibuk tak mau berhenti. “ Nest, kau harus tahu ada beberapa hal di dunia ini yang tidak bisa k i...